The Power of Doa
The
Power of Doa
Penulis: Aisyah bintu
Musriadi (Santri TN Kelas 1)
The Power of Doa ‘Kekuatan Doa’.
Doa
memiliki kekuatan dan kedahsyatan yang luar biasa. Ia merupakan senjata yang
paling ampuh bagi seorang mukmin. Karena, melalui doa, seorang hamba memohon
kepada Allah -Tabaroka wa ta’ala- agar mewujudkan keinginan dan harapan
yang terkadang terlihat mustahil di mata manusia.
Apa yang tidak mampu dilakukan oleh
kekuatan manusia, bisa menjadi mudah ketika Allah -Ta’ala- menghendakinya
melalui doa seorang hamba.
Doa dapat diibaratkan seperti sebuah
kunci yang membuka pintu-pintu kebaikan yang tertutup. Ada pintu yang tidak
dapat dibuka dengan kekuatan, harta, ataupun kecerdasan manusia, tetapi dapat
terbuka dengan kerendahan hati seorang hamba yang memohon kepada Tuhannya.
Karena itu, orang yang tidak pernah
berdoa, sebenarnya sedang menutup sendiri pintu-pintu pertolongan Allah -Azza
wa jalla- bagi dirinya.
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi
wasallam- bersabda,
«لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ،
وَلَا يَزِيدُ فِي العُمْرِ إِلَّا البِرُّ»
رواه الترمذي في "سننه" (رقم: 2139)
“Tidak ada yang dapat menolak
takdir, selain doa.”
[Hadits Riwayat At-Tirmidziy dalam “Sunan”-nya
(no. 2139), dan di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam “Shohih
Al-Jami’ Ash-Shoghir” (no. 7687)]
Kekuatan doa juga banyak dibuktikan
dalam kehidupan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan para
sahabatnya. Salah satu peristiwa yang paling jelas adalah pada Perang Badar.
Saat itu, kaum muslimin menghadapi pasukan musyrikin dengan jumlah kaum
muslimin yang jauh lebih sedikit dan persenjataan yang sangat terbatas.
Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah -shallallahu
‘alaihi wa sallam- terus mengangkat kedua tangannya, berdoa dengan penuh
kerendahan kepada Allah -Ta’ala- agar memberikan kemenangan kepada kaum
muslimin.
Allah -Ta’ala- pun mengabulkan
doa tersebut, sehingga pasukan km mukminin yang jumlahnya sedikit mampu
mengalahkan pasukan musyrikin yang jauh lebih besar.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa doa
ibarat angin yang menggerakkan layar kapal. Kapal memang tetap membutuhkan
usaha para pelaut untuk berlayar, tetapi tanpa angin yang mendorongnya, kapal
itu akan sulit bergerak menuju tujuannya.
Begitu pula kehidupan manusia; usaha
sangat penting, tetapi doa adalah kekuatan yang menggerakkan dan memberkahi
usaha tersebut.
Seorang ulama besar, Ibnu Qayyim
-rahimahullah- berkata
"فَفِي الْقَلْبِ شَعَثٌ، لَا يَلُمُّهُ إِلَّا
الْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ. وَفِيهِ وَحْشَةٌ، لَا يُزِيلُهَا إِلَّا الْأُنْسُ
بِهِ فِي خَلْوَتِهِ. وَفِيهِ حُزْنٌ
لَا يُذْهِبُهُ إِلَّا السُّرُورُ بِمَعْرِفَتِهِ وَصِدْقِ مُعَامَلَتِهِ. وَفِيهِ قَلَقٌ لَا يُسَكِّنُهُ إِلَّا
الِاجْتِمَاعُ عَلَيْهِ، وَالْفِرَارُ مِنْهُ إِلَيْهِ." اهـ من مدارج السالكين
(3/ 156)
“Di
dalam hati manusia terdapat kekusutan yang tidak dapat diurai, kecuali dengan
menghadap kepada Allah. Di dalamnya ada kesepian yang tidak akan hilang,
kecuali dengan berdekatan dengan-Nya.
Di dalamnya ada kesedihan yang
tidak akan lenyap, kecuali dengan kebahagiaan karena mengenal-Nya dan
bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya. Di dalamnya ada kegelisahan yang
tidak akan tenang, kecuali dengan kembali kepada-Nya.” [Lihat Madarij
as-Salikin (3/156)]
Jika seseorang bertanya, apa
sebenarnya manfaat doa? Ketahuilah bahwa
doa dapat menjadi sebab tertolaknya bencana dan datangnya rahmat dari Allah -Azza
wa jalla-.
Doa dapat diibaratkan seperti perisai
yang melindungi seorang prajurit dari anak panah yang datang kepadanya. Ia juga
seperti air yang menyirami tanah kering hingga akhirnya tumbuh tanaman yang
subur. Begitulah kekuatan doa dalam kehidupan seorang hamba.
Allah -Ta‘ala- berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ
دَاخِرِيْنَ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah
kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan
hina’.”
[Suroh Ghofir: 60]
Terkadang sebagian orang mengira bahwa
keadaan hidup yang sulitlah yang membuat seseorang menjadi rapuh. Padahal,
salah satu penyebab terbesar kerapuhan hati adalah ketika hubungan seorang
hamba dengan Tuhannya semakin jauh.
Hati yang jauh dari doa akan mudah
merasa lemah, seperti tanaman yang tidak pernah disiram air hingga akhirnya
layu dan kering.
Doa bukan sekadar ucapan permohonan di
lisan, tetapi juga usaha yang ikhlas untuk meraih apa yang telah Allah -Tabaroka
wa ta’ala- tetapkan.
Oleh karena itu, doa seharusnya
melibatkan seluruh unsur dalam diri manusia: hati yang penuh harapan, pikiran
yang yakin, lisan yang memohon, serta tindakan yang menunjukkan kesungguhan
dalam berusaha.
Orang yang takut kepada sesuatu
biasanya akan menjauh darinya. Namun, orang yang takut kepada Allah justru akan
semakin mendekat kepada-Nya. Ia mendekat melalui doa, ibadah, dan ketundukan
kepada-Nya.
Memang benar bahwa segala sesuatu telah
ditetapkan oleh Allah -Tabarka wa ta’ala-. Namun, seorang hamba tetap
diperintahkan untuk berdoa. Karena, doa itu adalah bentuk penghambaan kepada
Allah -Ta’ala- yang Dia jadikan sebagai sebab terjadinya sesuatu. Apa
yang dilangitkan melalui doa, tidak akan kembali dengan sia-sia. Allah Maha Mendengar
setiap permohonan hamba-Nya.
Terkadang doa langsung dikabulkan,
terkadang ditunda, dan terkadang diganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Seorang hamba hanya perlu terus memohon dan memperbaiki usahanya, lalu
menyerahkan hasilnya kepada Allah -Ta’ala-.
Karena itu, jika seseorang melangitkan
doa dan membumikan ikhtiar, maka pada akhirnya ia akan menemukan titik
kebahagiaan. Sebab, di balik kesabaran dan doa yang tulus, selalu ada
pertolongan Allah yang datang pada waktu yang paling tepat.
Ingat, saat kita berdoa, yakin Allah
kabulkan. Namun, terkadang permohonan kita terkadang diberi sesuai permohonan;
terkadang pula diberi dalam bentuk lain, seperti keselamatan dari bahaya,
penyakit dan lainnya, bahkan terkadang pula tidak diberi di dunia, tetapi diberi
di akhirat agar kebahagiaan kita semakin sempurna dan abadi.
-----------------------------
Artikel ini adalah karya tulis dari salah seorang santri TN (Tadribun
Nisaa’ Setingkat SMA) Pesantren Al-Ihsan Gowa yang telah diedit dan
disempurnakan oleh Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- pada
tanggal 24 Ramadhan 1447 H.

Masyaa ALLAH tabarakallah nak. Semoga menjadi ladang pahala & senantiasa Istiqomah dan menjadi anak Sholeha sukses ki di dunia & akhirat Amiin
BalasHapus