Meneladani Semangat Salaf dalam Menghidupkan Ramadhan
✦ ݁ Meneladani Semangat Salaf dalam Menghidupkan Ramadhan ✦ ݁
Penulis: Masyitho Alfiah (Santri Kelas TN
1)
───────── ⋆⋅☆⋅⋆ ─────────
Ramadhan adalah bulan yang penuh kemuliaan dan
keberkahan. Ia tidak hadir setiap saat, tetapi datang setelah sebelas bulan penantian.
Ketika ia tiba, hati orang-orang beriman seakan kembali hidup. Semangat
beribadah bangkit, jiwa menjadi lebih ringan untuk melakukan kebaikan, dan
setiap detik terasa berharga. Tidak mengherankan jika orang-orang saleh selalu
merindukan kedatangannya.
Ramadhan ibarat musim panen bagi seorang petani.
Sepanjang tahun ia menanam dan merawat tanaman, namun ketika musim panen tiba,
ia akan mengerahkan seluruh tenaga agar tidak ada hasil yang terbuang. Demikian
pula seorang mukmin. Ketika Ramadhan datang, ia akan memanfaatkan setiap
kesempatan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya.
Teladan terbaik dalam memakmurkan bulan Ramadhan tentu
saja adalah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-. Di dalam setiap sisi
kehidupan, beliau adalah contoh yang paling sempurna. Beliau menghidupkan
Ramadhan dengan berbagai ibadah, seperti memperbanyak tilawah Al-Qur’an,
memperpanjang shalat malam, memperbanyak sedekah, dan meningkatkan berbagai
amal kebajikan lainnya.
Dengan lentera keteladanan dari Rasul -shallallahu
alaihi wa sallam-, generasi salaf (para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) mendapatkan
inspirasi dan motivasi dalam mengisi dan menghidupkan hari-hari Ramadhan mereka
dengan berbagai amal sholih.
Kisah-kisah mereka dapat menjadi cermin bagi diri
kita, agar semangat ibadah semakin kuat, sekaligus mengikis rasa bangga diri
atas amal yang sebenarnya masih sangat sedikit.
Para salaf memandang Ramadhan seperti seorang musafir
yang singgah sebentar, lalu segera pergi. Karena itu, mereka berusaha
memanfaatkan waktunya sebaik mungkin sebelum ia berlalu.
Di antara kisah yang menggambarkan semangat mereka
adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Ishaq Al-Hamadzaniy -rahimahullah-; ia
berkata,
"خَرَجَ
عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ
رَمَضَانَ وَالْقَنَادِيلُ تُزْهِرُ، وَكِتَابُ اللَّهِ يُتْلَى فِي الْمَسَاجِدِ،
فَقَالَ: نَوَّرَ اللَّهُ لَكَ يَا عُمَرُ بْنَ الْخَطَّابِ فِي قَبْرِكَ، كَمَا
نَوَّرْتَ مَسَاجِدَ اللَّهِ بِالْقُرْآنِ." فضائل رمضان لابن أبي الدنيا (ص:
58) (رقم: 30)
“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, Ali bin Abi
Thalib -radhiyallahu anhu- keluar menuju masjid. Saat itu, lampu-lampu menyala
di dalam masjid, dan Al-Qur’an dibacakan di berbagai penjuru. Melihat
pemandangan tersebut, beliau berkata,
‘Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Umar bin
Al-Khaththab, sebagaimana engkau telah menerangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.’”
[Fadho’il Romadhon (hlm. 58) (no. 30), karya Ibnu Abid Dunya]
Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat
memakmurkan masjid dengan bacaan Al-Qur’an dan ibadah pada malam-malam
Ramadhan. Masjid-masjid hidup dengan lantunan ayat-ayat Allah, hati-hati mereka
dipenuhi kekhusyukan, dan malam-malam mereka dipenuhi dengan qiyam serta
tilawah.
Semangat ibadah para salaf benar-benar tampak jelas
pada bulan yang penuh ampunan ini. Mereka berpindah dari satu ibadah ke ibadah
lainnya, seakan tidak ingin menyia-nyiakan satu momen pun.
Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Al-Mubarak -rahimahullah-.
Ia menukil dari gurunya, Abu Bakar bin Abi Maryam -rahimahullah- 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯𝘺𝘢,
سَمِعْتُ مَشْيَخَتَنَا،
يَقُولُونَ: "إِذَا حَضَرَ شَهْرُ رَمَضَانَ، قَدْ حَضَرَ مُطَهِّرٌ،
وَيَقُولُونَ: انْبَسِطُوا بِالنَّفَقَةِ فِيهِ، فَإِنَّهَا تُضَاعَفُ
كَالنَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَيَقُولُونَ: التَّسْبِيحَةُ
فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ تَسْبِيحَةٍ فِي غَيْرِهِ ." اهـ من فضائل رمضان
لابن أبي الدنيا (ص: 53) (رقم: 23)
"A𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘨𝘶𝘳𝘶-𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘪 berkata,
'A𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢
𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘮𝘢𝘥𝘢𝘯
𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩
𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨
𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘤𝘪𝘬𝘢𝘯,
b𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩
infak 𝘱𝘢𝘥𝘢
𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. S𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 infak 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵 𝘨𝘢𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 infak 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘩𝘢𝘥 𝘧𝘪𝘴𝘢𝘣𝘪𝘭𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩.'
M𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯, 'B𝘦𝘳𝘵𝘢𝘴𝘣𝘪𝘩 satu 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘴𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢.' [Fadho’il Romadhon (hlm. 53) (no. 23), karya
Ibnu Abid Dunya]
𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘮𝘢𝘥𝘢𝘯. 𝘚𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘸𝘢𝘴𝘪𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘮𝘣𝘪𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢.
𝘈𝘥𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘧 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘢𝘮𝘣𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘭𝘶𝘮𝘪𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘸𝘢𝘬𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵.
𝘈𝘣𝘶 𝘈𝘣𝘥𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 [𝘈𝘵-𝘛𝘢𝘥𝘻𝘬𝘪𝘳𝘢𝘩] 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯, "A𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘈𝘭 𝘏𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘈𝘭 𝘉𝘢𝘴𝘳𝘪 رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ. 𝘉𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘩𝘶𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘺𝘢𝘵:
{وَإِنْ
تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا} [إبراهيم:34]
"𝘋𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢".{𝘘𝘚.𝘐𝘣𝘳𝘢𝘩𝘪𝘮:34}.
𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘴𝘶𝘣𝘶𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶, 'W𝘢𝘩𝘢𝘪 𝘢𝘣𝘶 S𝘢𝘪𝘥 (𝘈𝘭 𝘏𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘢𝘭-B𝘢𝘴𝘩𝘳𝘪), 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪 𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮?'
B𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣, '𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘣𝘳𝘢𝘩 (pelajaran) 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘥𝘪𝘱, 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶. Sedangkan 𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬'."
𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘬. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘴𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘤𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘸𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.
𝘚𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘳𝘪𝘸𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘴𝘱𝘪𝘳𝘢𝘵𝘪𝘧 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢. 𝘒𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘨𝘢𝘵 𝘫𝘪𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘦𝘤𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵.
Mereka juga mengatakan bahwa dzikir dan tasbih pada
bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar dibandingkan di bulan-bulan
lainnya.
Keadaan para salaf dalam memanfaatkan Ramadhan seperti
seorang pedagang cerdas yang mengetahui waktu pasar sedang ramai. Ia akan
memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperbanyak keuntungan. Demikian pula
para salaf; mereka memahami bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas yang mungkin
tidak akan terulang kembali dalam hidup mereka.
Oleh karena itu, mereka memperbanyak tilawah
Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, memperpanjang shalat malam, serta menjaga
waktu-waktu mereka dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
Semoga kisah-kisah tentang kesungguhan para salaf ini
dapat menghidupkan kembali semangat kita dalam beribadah di bulan Ramadhan.
Setidaknya, ia menjadi pengingat bahwa amal kita masih sangat sedikit
dibandingkan dengan kesungguhan mereka.
Ramadhan akan segera berlalu sebagaimana cepatnya awan
yang berarak di langit. Lantaran itu, sungguh merugilah orang yang melewati
bulan mulia ini tanpa memperbanyak amal kebaikan. Namun, beruntunglah orang
yang memanfaatkannya sebaik mungkin, karena ia akan memanen pahala yang
berlipat ganda di sisi Allah -Subahanahu wa ta’ala-.
------------------
Tulisan ini adalah karya tulis santri Pesantren
Al-Ihsan Gowa yang telah diedit oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah
-hafizhahullah- pada tanggal 17 Ramadhan 1447 H.

Komentar
Posting Komentar