Ibadah karena Cinta, bukan Sekadar Gugurnya Kewajiban

 


Ibadah karena Cinta, bukan Sekadar Gugurnya Kewajiban

Penulis: Umaimah bintu Ali  (Santri TN Kelas 1)



 

Banyak orang di antara kita beribadah hanya karena "takut berdosa" atau "sudah aturannya begitu". Padahal, sepantasnya seorang hamba mengikhlaskan ibadfahnya untuk Allah -Tabaroka wa ta’ala-. Ikhlas, artinya membersihkan niat dari noda-noda riya’, dan sum’ah.

 

Riya’ adalah beramal sholih karena ingin dilihat dan diperhatikan oleh orang lain), sedangkan sum’ah adalah beramal sholih karena ingin didengar oleh orang lain

 

Sering kali riya’dan sum’ah ini dilakukan oleh seseorang agar ia dipuji orang sehingga mendapatkan kedudukan, dan dunia di sisi manusia.

 

Di antara ciri orang yang ikhlas, pelakukanya melakukan amal sholih atau ibadah karena ingin meraih pahala dan keutamaan di sisi Allah -Azza wa jalla-, sehingga ia melakukannya dengan semangat, bukan karena terpaksa, tetapi karena ia sadar bahwa kita butuh ampunan, pahala dan keuatamaan Allah -Tabaroka wa ta’ala-.

 

Inilah yang disinyalir oleh Allah -Ta’ala- dalam firman-Nya,

 

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

 

"Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlash (memurnikan) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus...". (Suroh Al-Bayyinah: 5)

 

Mufassir Negeri Andalusia, Abu Abdillah Al-Qurthubiy (wafat 671 H) -rahimahullah- berkata saat menerangkan ayat ini,

 

"وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِ النِّيَّةِ فِي الْعِبَادَاتِ فَإِنَّ الْإِخْلَاصَ مِنْ عَمَلِ الْقَلْبِ وَهُوَ الَّذِي يُرَادُ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ تَعَالَى لَا غَيْرِهِ." اهـ من تفسير القرطبي (20/ 144)

 

“Di dalam firman Allah ini terdapat dalil tentang wajibnya niat di dalam ibadah-ibadah. Karena, ikhlash termasuk amalan hati, dan itulah yang diingankan dengannya wajah Allah -Ta’ala-, bukan yang lainnya.” [Lihat Tafsir Al-Qurthubiy (20/ 144)]

 

Kehadiran niat yang ikhlas amat menentukan nasib ibadah yang kita tunaikan; jika ibadah itu murni dan bersih dari noda-noda riya’ dan sum’ah, maka pelakunya akan memetik buah manis dari ibadahnya berupa pahala dan keutamaan.

 

Namun, jika keikhlasan hilang dalam niatnya saat ia mengerjakan amal sholih dan ibadah, maka buah pahit akan menanti dirinya di akhirat berupa penyesalan dan pertanggungjawaban yang mengerikan!

 

Orang yang tidak ikhlash dalam ibadah dan amal sholihnya, ibarat seorang musafir yang membawa perbekalan dalam sebuah karung yang bocor. Dengan susah payah ia membawanya, tetapi ternyata sampai di tujuan ia tidak menemukan apapun; ia hanya menemukan rasa capek dan penyesalan atas kelalaiannya.

 

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

 

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ» رواه البخاري في "صحيحه" (رقم: 1)، ومسلم في "صحيحه" (رقم: 1907)

 

"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan." [Hadits Riwayat Imam Al-Bukhariy dalam “Shohih”-nya (no. 1) dan Muslim dalam “Shohih”-nya (no. 1907)]

 

Al-Qodhiy Iyadh Al-Yahshobiy -rahimahullah- berkata,

 

"وهذا يدل أن الأعمال بالنيات، وأن الأجور بالاحتساب." اهـ من إكمال المعلم بفوائد مسلم (3/ 113)

 

“Ini menunjukkan bahwa amal-amal sholih dengan sebab adanya niat, dan bahwa pahala (dari amal-amal sholih itu) dengan sebab ihtisab (mengharapkan pahala).” [Lihat Ikmal al-Mu’lim bi Fawa’id Muslim (3/113)]

 

Jadi, setiap amal sholih atau ibadah harus diiringi oleh niat, dan niat yang tulus tidak akan terwujud, kecuali dengan mengikhlaskan dan memurnikan amal sholih itu dari noda-noda riya’ dan sum’ah sehingga semata ia tunaikan karena mengharapkan balasan kebaikan dan keutamaan dari Allah -Tabaroka wa ta’ala-, bukan karena mengharapkan pujian dan kedudukan duniawi. Itulah ikhlash!

 

Faedah dan Pelajaran:

 

​1/ Ibadah terasa ringan saat kita melakukan sesuatu karena ikhlash yang lahir dari cinta kepada Allah. Rasa lelah saat puasa atau ngantuk saat tarawih akan kalah oleh rasa bahagia dalam menunaikan ibadah.

2/ Orang yang ikhlas tidak akan kecewa jika ibadahnya tidak dilihat atau dipuji orang lain, karena targetnya memang hanya penilaian Allah -Ta’ala-, bukan penilaian manusia.

3/ Pahala yang maksimal karena keberkahan niat yang ikhlash. Dua orang bisa melakukan salat yang sama, tetapi pahalanya bisa sejauh langit dan bumi hanya karena beda niat di hatinya.

 

4/ Bayangkan kamu memberikan hadiah kepada orang yang paling kamu cintai (misalnya, orang tua). Kamu melakukannya bukan karena "wajib" atau takut dimarahi, tetapi karena kamu ingin melihat beliau tersenyum. Nah, begitulah seharusnya kita beribadah kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala-.

 5/ Ibadah yang didasari kewajiban akan terasa seperti beban yang berat dipikul. Namun, ibadah yang didasari keikhlasan akan terasa seperti sayap yang menerbangkan kita menuju ketenangan.

Jangan jadikan Ramadhan hanya sebagai bulan 'menahan lapar', tetapi jadikanlah sebagai bulan 'pembuktian cinta' kepada Sang Pencipta. Karena, Allah -Azza wa jalla- tidak melihat seberapa lelah fisikmu, tetapi seberapa ikhlash hatimu.

------------------------------

Ini adalah karya tulis dari salah satu santri Pesantren Al-Ihsan Gowa yang telah diedit dan disempurnakan oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- pada tanggal 15 Ramadhan 1447 H.

  


Komentar

Artikel Paling Populer