Membangun Rumah Abadi dengan Amal Hari Ini

 

  Membangun Rumah Abadi dengan Amal Hari Ini

Penulis: Indira Suci Ramadhani (Santri TN 1)

 

Banyak orang yang bekerja keras membangun kehidupan di dunia ini dengan mengumpulkan harta, membangun rumah, dan menyiapkan masa depan, tetapi tidak semua orang menyadari bahwa kehidupan yang sebenarnya justru berada setelah kehidupan ini berakhir.

 

Kehidupan manusia di dunia tidak ubahnya seperti seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan jauh. Ia singgah sebentar di suatu tempat untuk mempersiapkan bekal sebelum melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya.

 

Orang yang cerdik tentu tidak akan menghabiskan waktunya hanya untuk menikmati keindahan tempat persinggahan itu, tetapi ia akan sibuk menyiapkan bekal agar perjalanan selanjutnya menjadi aman dan nyaman.

 

Demikian pula amal saleh yang kita lakukan di dunia ini; ia adalah bkal yang sedang kita kumpulkan untuk membangun kebahagiaan yang abadi di negeri akhirat yang sejatinya adalah kampung halaman orang-orang yang beriman.

 

   Allah  berfirman,

{وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ} [الروم: 44]

“Dan barangsiapa mengerjakan amal saleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (Surah Ar-Rum: 44)

 

Muhammad Shiddiq Hasan Khan Al-Qinnaujiy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini,

"جعل الأعمال الصالحة التي هي سبب لدخول الجنة كبناء المنازل في الجنة وفرشها." اهـ  من فتح البيان في مقاصد القرآن (10/ 259)

“Allah jadikan amal-amal sholih yang merupakan sebab (bagi seorang hamba) untuk masuk surga sebagai bangunan rumah-rumah dan hamparan mereka di dalam surga.” [Lihat Fath Al-Qodir fi Maqoshid Al-Qur’an (10/ 259), karya Al-Qinnaujiy]

 

Amal saleh bukan sekadar kebaikan yang berlalu, tetapi bangunan yang sedang kita dirikan untuk kehidupan yang kekal. Setiap sujud, sedekah, dan ketaatan yang kita jaga dan tunaikan hari ini adalah persiapan tempat istirahat terbaik di akhirat. Karena, sejatinya kita sedang membangun untuk diri kita sendiri.

 

Ayat ini mengingatkan kita tentang hakikat perjalanan hidup menuju negeri akhirat. Layaknya musafir yang tidak akan bisa sampai ke tujuan tanpa perbekalan, kita diingatkan agar tidak berangkat dalam keadaan "tangan kosong" saat menghadap Sang Pencipta, Allah -Tabaroka wa ta’ala-, tetapi kita fokus pada bekal agar membuat kita lebih selektif dalam menggunakan waktu.

 

Datang di dalam sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud -radhiyallah anhu-; beliau berkata,

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

 

"لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ المَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ." رواه الترمذي  في "سننه" (5/ 510) (رقم: 3462)

“Aku menjumpai Nabi Ibrahim pada malam aku di-isro’-kan (diperjalankan dan diangkat ke langit).

Ibrahim berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku untuk umatmu dan kabari mereka bahwa surga adalah harum tanahnya, tawar airnya dan bahwa surga itu adalah tanah lapang yang datar; tanamannya adalah (kalimat dzikir): “Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar.”  [Hadits Riwayat At-Tirmidziy di dalam “Sunan”-nya (no. 3462)]

 

Hadits ini menunjukkan bahwa surga dan kenikmatannya tak akan diraih, kecuali dengan amal-amal sholih. Surga yang lapang lagi datar tanpa istana dan taman; kitalah yang membangun dan menanaminya dengan amal-amal sholih kita, seperti dzikir dan lainnya.

 

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata,

 

"الإنسان إذا قالها يغرس له في الجنة غرسا في كل كلمة ومنها أن ذكر الله عز وجل من أفضل الأعمال وأوفاها وأحبها إلى الله _عز وجل_." اهـ من شرح رياض الصالحين (5/ 520)

“Seseorang bila mengucapkan kalimat-kalimat itu, maka ditanamkan baginya di dalam surga sebuah tanaman pada setiap kalimat itu. Di antara faedahnya hadits ini bahwa dzikir kepada Allah -Azza wa jalla- temasuk amalan yang paling utama, paling sempurna, dan paling dicintai oleh Allah -Azza wa jalla-.”  [Lihat Syarh Riyadh Ash-Sholihin (5/520)]

 

At-Turibisytiy -rahaimahullah- berkata saat menerangkan hadits ini,

"أعلمهم أن هذه الكلمات تورث قائلها الجنة وتفيده مخاوفها، وأن الساعي في إكسابها هو الذي لا يضيع سعيه لأنها المغْرِس الذي لا يتلف ما اسُتودع ولا يخلف ما نُبت فيه." اهـ من الميسر في شرح مصابيح السنة للتوربشتي (2/ 538)

“Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- mengabari mereka bahwa kalimat-kalimat ini mewariskan surga kepada pengucapnya, dan melindunginya dari rasa takutnya dan bahwa orang yang berusaha dalam mengerjakannya adalah orang yang usahanya tidak akan sia-sia. Karena, kalimat-kalimat itu bagaikan tanah tempat menanam yang tidak akan rusak sesuatu yang dititipkan padanya dan tidak akan gagal sesuatu yang tumbuh darinya.” [Lihat Syarh Mashobih As-Sunnah (2/538)]  

 

Penting seorang mukmin untuk mengubah pola pikir kita dari sekadar "memberi" menjadi "menanam". Jika investasi dunia memiliki risiko gagal, tetapi yakinlah bahwa investasi akhirat adalah satu-satunya bentuk perniagaan yang pasti untung.

 

Allah -Ta’ala- berfirman,

 

{إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)} [فاطر: 29، 30]

“Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitabullah (Al-Qur’an), mendirikan sholat, dan menginfakkan sebagian di antara sesuatu (rezeki) yang Kami berikan kepada mereka dalam keadaan rahasia dan terang-terangan; (karena) mereka mengharapkan perniagaan yang tidak merugi agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan memberikan tambahan karunia kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Bersyukur.” [Suroh Fathir: 29-30]

 

Ini memotivasi kita untuk tidak merasa rugi saat mengeluarkan harta, waktu, pikiran atau tenaga di jalan Allah demi mendekatkan diri kepada-Nya.

 

Lakukanlah kebaikan seolah-olah kamu sedang memanjakan dirimu sendiri di masa depan.


------------------

 

Tulisan ini adalah karya tulis santri Pesantren Al-Ihsan Gowa yang telah diedit oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- pada tanggal 17 Ramadhan 1447 H.

 

Komentar

Artikel Paling Populer