Puasa bukan Semata Menahan Lapar dan Dahaga

 


  

Puasa bukan Semata Menahan Lapar dan Dahaga

 

Penulis: Saffaanah (Santri TN Kelas 1)

 

Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang mendidik jiwa agar mampu mengendalikan diri dari berbagai perbuatan dosa, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Karena itu, para ulama selalu mengingatkan bahwa keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari kosongnya perut, tetapi juga dari bersihnya lisan dan terjaganya akhlak seorang hamba.

 

Keadaan orang yang berpuasa, tetapi masih gemar berdusta, dapat diibaratkan seperti seseorang yang membersihkan bagian luar sebuah bejana, tetapi membiarkan bagian dalamnya tetap kotor. Dari luar tampak bersih, tetapi hakikatnya belum benar-benar suci.

 

Demikian pula puasa yang tidak diiringi dengan penjagaan lisan; secara lahiriah seseorang tampak berpuasa, tetapi hakikat puasa yang seharusnya membersihkan hati dan memperbaiki akhlak belum sepenuhnya tercapai.

 

Perkara ini pernah diingatkan oleh Rasulullah di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-; Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (qauluz zuur) dan tidak meninggalkan perbuatan maksiat, maka Allah tidak membutuhkan tindakannya meninggalkan makan dan minumnya.” [Hadits Riwayat Al-Bukhariy dalam “Shohih”-nya (no. 1903)]

 

Ibnul-‘Arabiy -rahimahullah- berkata,

مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَابَ الصِّيَامِ لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْمِ الزُّورِ وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ." اهـ من فتح الباري لابن حجر (4/ 117)

“Konsekuensi hadis ini bahwa orang yang melakukan hal-hal yang disebutkan (seperti perkataan dusta dan perbuatan dosa yang menyertainya) tidak akan mendapatkan pahala atas puasanya. Maksudnya bahwa pahala puasa itu tidak mampu menandingi dalam hal timbangan dosa kedustaan dan hal-hal lain yang disebutkan bersamanya.” [Lihat Fath Al-Bariy (4/ 117), karya Al-Hafizh Ibnu Hajar]

 

Hadits ini memberikan peringatan yang sangat kuat kepada orang yang berpuasa agar tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk dosa, terutama dosa yang keluar dari lisan. Puasa bukan sekadar ibadah yang bersifat lahiriah, melainkan juga ibadah yang menuntut kebersihan hati dan akhlak dengan menjauhi perkara yang haram.

 

Keadaan orang yang berpuasa, tetapi tetap berdusta, dapat diibaratkan seperti seseorang yang membangun rumah yang indah tetapi merusak fondasinya sendiri. Dari luar tampak baik, tetapi sebenarnya rapuh dan mudah runtuh.

 

Begitu pula puasa seseorang yang dipenuhi dengan dusta dan kemaksiatan; secara lahiriah ia berpuasa, tetapi nilai ibadahnya menjadi rusak di sisi Allah.

 

Seorang muslim yang memahami hakikat puasa akan berusaha menjaga seluruh anggota tubuhnya dari dosa. Ia tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisannya dari dusta, menjaga telinganya dari mendengar yang haram, serta menjaga hatinya dari riya’, sum’ah, hasad, buruk sangka, kebencian dan kedengkian.

 

Dengan demikian, puasanya tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai besar di sisi Allah -Tabaroka wa ta’ala-, dan menjadi sarana untuk meraih ketakwaan.

 

Puasa yang disertai dengan penjagaan lisan dan akhlak dapat diibaratkan seperti sebuah pohon yang ditanam di tanah yang subur. Ia tidak hanya tumbuh, tetapi juga menghasilkan buah yang bermanfaat.

 

Begitu pula puasa seorang hamba; ketika ia menjaga dirinya dari segala bentuk kebohongan dan kemaksiatan, maka puasanya bukan hanya menggugurkan kewajiban puasa, tetapi juga akan berbuah pahala, keberkahan, dan kedekatan kepada Allah -Azza wa jalla-.

 

Faedah dan Pelajaran Penting dari Hadits ini:

 

Berdasarkan hadits di atas, para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting yang patut direnungi oleh setiap muslim:

 

1. Tujuan Puasa adalah Ketakwaan

Puasa bukan sekadar menunda waktu makan dan minum. Puasa merupakan sarana untuk melatih pengendalian diri dan menumbuhkan ketakwaan kepada Allah. Jika seseorang masih mudah berdusta dan lisannya tidak terkendali, maka tujuan utama puasa belum sepenuhnya tercapai.

 

2. Pahala Puasa Bisa Berkurang atau Hilang

Berdusta tidak secara otomatis membatalkan puasa secara hukum fikih, sehingga seseorang tidak diwajibkan mengganti puasanya. Namun, perbuatan tersebut dapat mengurangi, bahkan menghilangkan pahala puasa. Seseorang mungkin tetap sah puasanya secara hukum, tetapi puasanya menjadi kosong dari pahala di sisi Allah.

 

3. Makna “Qauluz Zuur”

Para ulama menjelaskan bahwa “qauluz zuur” mencakup setiap ucapan yang menyimpang dari kebenaran. Termasuk di dalamnya adalah kebohongan, kesaksian palsu, ghibah (menggunjing), fitnah, dan berbagai bentuk ucapan yang menyakiti orang lain.

 

4. Allah Tidak Membutuhkan Puasa Seperti Itu

Ungkapan “Allah tidak membutuhkan” dalam hadits ini merupakan bentuk peringatan keras yang menunjukkan bahwa puasa yang dipenuhi dengan dusta dan kemaksiatan tidak memiliki nilai yang sempurna di sisi Allah -Ta’ala-.

 

5. Pentingnya Integritas dan Kesucian Diri Seorang Muslim

Hadits ini menegaskan bahwa ibadah seorang muslim harus selaras dengan akhlaknya. Puasa yang benar tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan lisan dari dusta, menahan mata dari hal yang haram, dan menahan hati dari sifat-sifat buruk.

 

Kesimpulan

Secara hukum fikih, berbohong memang tidak membatalkan puasa seperti halnya makan atau minum. Namun, perbuatan tersebut dapat merusak hakikat dan tujuan puasa itu sendiri.

 

Al-Baidhowiy -rahimahullah- berkata,

"لَيْسَ الْمَقْصُودُ مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْسَ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَاتِ وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ نَظَرَ الْقَبُولِ." مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (6/ 479)

“Tujuan disyariatkannya puasa bukanlah sekadar (untuk merasakan) lapar dan haus itu sendiri, tetapi sesuatu yang mengikuti darinya berupa pengekangan hawa nafsu dan penundukan jiwa yang selalu memerintahkan kepada keburukan agar tunduk kepada jiwa yang tenang. Apabila hal itu tidak terwujud, maka Allah tidak akan memandangnya dengan pandangan penerimaan.” [Lihat Mir’ah Al-Mafatih (6/ 479), karya Ubaidullah Ar-Rohmaniy]

 

Puasa yang berkualitas adalah puasa yang melibatkan seluruh anggota tubuh: perut menahan lapar dan dahaga, lisan menahan dusta, serta hati menahan diri dari hasad dan kebencian.

 

Dengan demikian, seorang muslim hendaknya menjadikan puasanya sebagai sarana untuk memperbaiki akhlak dan membersihkan hati, sehingga puasa yang dijalankannya tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai besar di sisi Allah.

 

-----------------------------

 

Artikel ini adalah karya tulis dari salah seorang santri TN (Tadribun Nisaa’ Setingkat SMA) Pesantren Al-Ihsan Gowa yang telah diedit dan disempurnakan oleh Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- pada tanggal 22 Ramadhan 1447 H.

Komentar

Artikel Paling Populer