Kesombongan, Sebuah Kerugian yang tak Disadari

 


Kesombongan, Sebuah Kerugian yang tak Disadari

 

Penulis: Suci Cahaya Rahmadhani (Santri TN Kelas 1)

 


Ada orang yang berjalan di bumi ini dengan langkah ringan, hatinya tenang, karena ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah. Namun, ada pula yang berjalan dengan dada membusung, merasa dirinya tinggi dan mulia.  Padahal hakikat manusia tidak lebih dari setitik tanah yang diberi roh oleh Allah -Tabaroka wa ta’ala-.

 

Kesombongan sering kali datang tanpa disadari; ia tumbuh perlahan di dalam hati, seperti benih kecil yang kemudian menjelma menjadi pohon besar yang menutupi cahaya kebenaran.

 

Kesombongan itu ibarat seseorang yang berdiri di atas puncak gunung. Dari atas sana ia melihat manusia lain tampak kecil dan hina. Namun, ia lupa bahwa dari bawah, orang-orang juga melihatnya sebagai sosok yang kecil di tengah luasnya langit.

 

Begitulah kesombongan menipu pemiliknya: ia merasa tinggi padahal sebenarnya sedang memperlihatkan kerendahan dirinya di hadapan Allah.

 

Allah -Ta‘ala- berfirman,

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

“Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” [Suroh Al-Israa’: 37]

 

Ibnu Juzay Al-Ghornathiy (wafat 741 H) -rahimahullah- berkata,

إذا كنت أيها الإنسان لا تقدر على خرق الأرض، ولا على مطاولة الجبال، فكيف تتكبر وتختال في مشيك، وإنما الواجب عليك التواضع كُلُّ ذلِكَ كانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهاً." اهـ من تفسير ابن جزي = التسهيل لعلوم التنزيل (1/ 446)

“Jika engkau wahai manusia tidak mampu menembus bumi dan tidak pula mampu menyamai tingginya gunung-gunung, maka bagaimana mungkin engkau bersikap sombong dan berjalan dengan penuh keangkuhan? Padahal yang wajib atasmu adalah bersikap tawadhu (rendah hati). Semua itu, keburukannya adalah sesuatu yang dibenci di sisi Tuhanmu.” [Lihat At-Tashil li ‘Ulum at-Tanzil (1/446)]

 

 

Ayat ini merupakan teguran yang sangat tajam dari Allah kepada manusia agar tidak bersikap angkuh. Sehebat apapun manusia itu, ia tetaplah makhluk lemah yang berpijak di atas tanah. Manusia tidak akan mampu menembus bumi dengan kekuatannya, dan tidak akan pernah menjulang setinggi gunung. Karenanya, tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk menyombongkan diri.

 

Faedah dan Renungan

 

Para pembaca yang budiman, di sana terdapat beberapa faedah dan renungan yang penting kami utarakan agar anda mengerti dan memahami hakikat kesombongan dan bahayanya:

 

1/ Hakikat Kelemahan Manusia

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia memiliki kemampuan yang sangat terbatas dibandingkan ciptaan Allah yang lain. Gunung yang menjulang tinggi dan bumi yang luas menjadi bukti kecilnya kekuatan manusia.

 

Oleh karena itu, kesombongan adalah sikap yang tidak sesuai dengan hakikat penciptaan manusia sebagai hamba yang lemah. Kesombongan adalah sikap lupa daratan!

 

Sering kali manusia lupa tentang hakikat dirinya. Ia berjalan di bumi seakan-akan memiliki kekuatan yang besar, padahal ia hanyalah makhluk yang berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.

 

Ketika seseorang menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran Allah -Tabaroka wa ta’ala- dan luasnya alam semesta ini, maka kesombongan tidak akan menemukan tempat di dalam hatinya.

 

Jadi, hendaknya seorang hamba selalu mengingat asal-usul dirinya dan keterbatasan kemampuannya. Ketika seseorang menyadari bahwa ia hanyalah makhluk yang lemah di hadapan kekuasaan Allah, niscaya hatinya akan dipenuhi kerendahan diri dan ia akan menjauh dari sikap sombong.

 

2/ Kesombongan Menghancurkan Pemiliknya

Sejarah memberikan pelajaran yang sangat jelas tentang akibat kesombongan. Firaun menyombongkan dirinya hingga ia mengaku sebagai tuhan, lalu Allah -Tabaroka wa ta’ala- menenggelamkannya di laut.

Tatkala Qarun membanggakan hartanya, dan merasa semua itu hasil usahanya sendiri, maka Allah membenamkannya bersama hartanya ke dalam bumi.

 

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa kesombongan yang “setinggi gunung” pada akhirnya akan dijatuhkan oleh Allah -Azza wa jalla- dengan cara yang paling hina!

 

Karena itu, kisah-kisah orang yang sombong dalam sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi peringatan bagi setiap manusia. Barangsiapa yang mengambil pelajaran darinya, ia akan selamat; dan barangsiapa mengabaikannya, ia berisiko jatuh ke dalam kesalahan yang sama!

 

3/ Kesombongan Berasal dari Penyakit Iblis

Kesombongan bukanlah sekadar sikap lahiriah, tetapi penyakit hati yang pertama kali muncul dalam sejarah makhluk. Penyakit inilah yang dahulu menjerumuskan Iblis hingga dilaknat oleh Allah. Ia tidak menolak perintah Allah karena tidak tahu, tetapi karena merasa dirinya lebih baik dari orang lain.

 

Akar kesombongan adalah perasaan “aku lebih baik”. Iblis berkata,

{أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ} [الأعراف: 12]

“Aku lebih baik darinya.” [Suroh Al-A’raaf: 12]

 

Iblis bukan makhluk yang bodoh. Ia memiliki ilmu dan pernah beribadah kepada Allah -Ta’ala-. Namun, satu kalimat kesombongan membuatnya terusir dan terlaknat selamanya. Ini menunjukkan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Kesombongan akan beranak pinak dengan berbagai warna dan bentuknya sampai ada di antara orang-orang mengangkat dirinya sebagai tuhan! Na’udzu billah min dzalik!

 

Hendaknya seorang mukmin selalu waspada terhadap bisikan yang menumbuhkan perasaan lebih baik dari orang lain. Sebab kesombongan sekecil apa pun bisa menjadi pintu yang menyeret seseorang mengikuti jejak Iblis yang terlaknat.

 

4/ Bentuk-Bentuk Kesombongan pada Manusia

Manusia sering kali sombong karena perkara-perkara yang sebenarnya sangat rapuh:

* Sombong karena harta. Padahal, harta hanyalah angka yang bisa hilang dalam sekejap jika Allah -Tabaroka wa ta’ala- menghendaki.

* Sombong karena ilmu. Padahal, semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin ia sadar bahwa yang tidak ia ketahui jauh lebih banyak.

* Sombong karena jabatan. Padahal, jabatan hanyalah amanah sementara yang memiliki masa berlaku.

 

Jadi, kesombongan itu sering kali datang melalui perkara-perkara yang tampak sebagai kelebihan dalam hidup manusia. Harta, ilmu, kedudukan, atau keturunan dapat menjadi sebab seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain. Padahal semua itu hanyalah titipan dari Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.

 

Oleh karena itu, apa pun kelebihan yang dimiliki seseorang seharusnya membuatnya semakin bersyukur kepada Allah, bukan semakin tinggi hati. Kelebihan itu hanyalah amanah sementara yang akan dipertanggungjawabkan, bukan alasan untuk merendahkan sesama.

 

 

5/ Kesombongan Menghalangi Hidayah

Di antara akibat fatal dari kesombongan, pelakunya menutup diri menerima nasihat dan kebenaran, serta gemar meremehkan dan merendahkan orang lain. Seakan-akan ia adalah orang yang paling hebat, tanpa memiliki aib dan kekurangan sedikitpun! Ingat bahwa selama anda berstatus manusia, pasti memiliki keukurangan dan kelemahan!

 

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Hadits Riwayat Imam Muslim dalam Shohih-nya (no. 91)

 

Orang yang sombong sulit menerima nasihat dan enggan mendengar nasihat dan pendapat orang lain, terutama jika datang dari orang yang dianggap lebih rendah darinya. Sementara rendah hati (tawadhu) justru lebih mudah menerima kebenaran.

 

Hati manusia ibarat wadah yang menerima kebenaran. Jika wadah itu dipenuhi dengan kesombongan, maka kebenaran akan sulit masuk ke dalamnya. Karena itu, banyak orang yang sebenarnya melihat kebenaran, tetapi enggan menerimanya hanya karena kesombongan yang ada di dalam hatinya.

 

Dengan demikian, siapapun yang ingin mendapatkan hidayah, maka hendaknya ia membersihkan hatinya dari kesombongan. Karena, kebenaran itu hanya akan menetap di dalam hati yang tawadhu, dan siap menerima nasihat.

 

6/ Allah Tidak Menyukai Orang Sombong

Salah satu tanda bahaya dari kesombongan adalah bahwa sifat ini sangat dibenci oleh Allah. Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati manusia, termasuk rasa tinggi diri yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Oleh karena itu, seorang mukmin harus selalu berhati-hati agar tidak memelihara sifat yang dapat mengundang murka Allah.

 

Allah -Tabaroka wa ta’ala- berfirman,

لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka tampakkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” [Suroh An-Nahl: 23]

 

Ayat ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan hanya terlihat dalam perbuatan, tetapi juga tersembunyi di dalam hati, dan Allah mengetahui semuanya.

 

Tatkala mengingat bahwa Allah tidak menyukai kesombongan, maka seorang hamba harus senantiasa memohon kepada-Nya agar diselamatkan dari penyakit hati ini. Sebab, keselamatan seorang hamba terletak pada kerendahan hatinya di hadapan Allah dan sesama manusia.

 

7/ Kesombongan Membuat Hidup Melelahkan

Sekilas kesombongan tampak seperti kekuatan, tetapi sebenarnya ia adalah beban yang berat bagi pemiliknya. Orang yang sombong itu sebenarnya sedang membangun penjara bagi dirinya sendiri. Ia selalu merasa harus mempertahankan citra dirinya agar terlihat lebih tinggi daripada orang lain. Akibatnya, hidupnya dipenuhi kegelisahan dan tekanan yang tidak dirasakan oleh orang yang tawadhu (rendah hati).

 

Sebaliknya, orang yang tawadhu hidup lebih tenang karena tidak merasa perlu membuktikan kehebatan dirinya kepada manusia.

 

8/ Balasan Orang Sombong di Hari Kiamat

Kesombongan tidak hanya membawa kerugian di dunia, tetapi juga kehinaan yang besar di akhirat. Allah -Azza wa jalla- menyiapkan balasan yang sesuai bagi orang-orang yang merasa dirinya besar di dunia.

 

Ketika manusia dikumpulkan pada hari kiamat, barulah tampak betapa hina nasib orang yang dahulu berjalan di bumi dengan penuh keangkuhan.

 

Rasulullah bersabda:

«يُحْشَرُ المُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الخَبَالِ»

“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, dalam keadaan mereka diliputi kehinaan dari segala arah. Kemudian mereka digiring menuju sebuah penjara di dalam neraka Jahannam yang disebut “Bulas”. Di atas mereka berkobar api yang sangat dahsyat. Mereka diberi minum dari cairan perasan (keringat dan kotoran) penghuni neraka, yaitu Tinatul Khobal.”  [Hadits Riwayat At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2492). Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 8040)]

 

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- juga bersabda,

«مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ، أَوِ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ»

“Barangsiapa yang merasa dirinya besar atau berjalan dengan sombong, maka ia akan menemui Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.”

[Hadits Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad (no. 5995), dan Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (no. 549). Dinyatakan shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam di dalam Ash-Shohihah (no. 543)]

 

Hendaknya setiap orang berhati-hati agar tidak merasa besar di dunia yang fana ini. Sebab, barangsiapa yang rendah hati karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya; dan barangsiapa yang menyombongkan diri, Allah akan menghinakannya di dunia dan di akhirat.

 

Kesimpulan

Kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia dapat menghancurkan amal, menutup pintu hidayah, dan menjadi sebab kehinaan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, seorang mukmin harus senantiasa menjaga hatinya dari sifat ini dengan menumbuhkan sikap tawadhu, menyadari kelemahan dirinya, serta mengingat kebesaran Allah yang tiada bandingannya.

Komentar

Artikel Paling Populer