Ketika Harta tak Lagi Menjadi Halangan untuk Berbagi
Ketika Harta tak Lagi Menjadi Halangan untuk Berbagi
Penulis: Dzakiah
(Santri TN Kelas 1)
Dalam
kehidupan seorang muslim, harta sering kali menjadi ujian yang paling berat. Sebagian
orang menjadikannya sebagai tujuan hidup, sementara yang lain menjadikannya
sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Di
sinilah letak perbedaan antara orang yang mencintai dunia dan orang yang
mencintai akhirat. Hati yang dipenuhi kecintaan kepada Allah akan lebih mudah
melepaskan hartanya di jalan Allah ‘jalan kebaikan’. Karena, ia yakin bahwa apa
yang diberikan di jalan Allah, tidak akan pernah sia-sia!
Keadaan
ini dapat diibaratkan seperti seseorang yang menggenggam pasir di tangannya.
Semakin kuat ia menggenggamnya, semakin banyak pasir yang jatuh dan hilang.
Namun, ketika ia melepaskannya dengan ikhlas, ia justru tidak merasa
kehilangan.
Demikian
pula harta; semakin seseorang terikat padanya, semakin ia merasa sempit. Namun,
ketika ia mampu melepaskannya di jalan Allah, maka hatinya akan terasa lapang
dan penuh ketenangan.
Pada
suatu hari, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan para
sahabat untuk bersedekah demi membantu kebutuhan kaum muslimin dan kepentingan
agama.
Perintah
ini disambut dengan penuh semangat oleh para sahabat, karena mereka memahami
bahwa sedekah adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Saat
itu, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memiliki harta yang cukup banyak. Ia
pun berniat untuk menyaingi Abu Bakar dalam amal sedekah.
Adapun
Kisah selengkapnya, diceritakan oleh Umar bin al-Khaththab -radhiyallahu
‘anhu-; ia berkata,
أَمَرَنَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَتَصَدَّقَ، فَوَافَقَ
ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي، فَقُلْتُ: الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ
سَبَقْتُهُ يَوْمًا.
فَجِئْتُ
بِنِصْفِ مَالِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟»
قُلْتُ:
مِثْلَهُ.
وَأَتَى
أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟»
قَالَ:
أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ.
فَقُلْتُ:
لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا."
رواه
أبو داود في "سننه" (2/ 129) (رقم: 1678)، والترمذي في "سننه"
(5/ 614) (رقم: 3675)، وحسّنه الألباني _رحمه الله_ في "تخريج مشكاة المصابيح"
(3/ 1699) (رقم: 6030)
Rasulullah
-shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan kami untuk bersedekah. Saat itu
aku memiliki harta; aku berkata (dalam hati), “Hari ini aku akan mengungguli
Abu Bakar jika suatu hari aku bisa mengunggulinya.”
Lalu
aku datang dengan membawa setengah dari hartaku. Rasulullah -shallallahu
‘alaihi wa sallam- bertanya,
“Apa
yang engkau sisakan untuk keluargamu?”
Aku
menjawab, “Aku menyisakan yang semisalnya (setengahnya).”
Kemudian
Abu Bakr ash-Shiddiq -radhiyallahu ‘anhu- datang membawa seluruh harta yang ia
miliki. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanyak
“Apa
yang engkau sisakan untuk keluargamu?”
Ia
menjawab, “Aku menyisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Akhirnya,
aku (Umar) berkata, “Aku tidak akan pernah bisa mengunggulimu dalam suatu hal
pun selamanya.” [Hadits Riwayat Abu Dawud
dalam “Sunan”-nya (no. 1678), dan At-Tirmidziy dalam “Sunan”-nya
(no. 3675). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam “Takhrij
Misykah Al-Mashobih” (no. 6030)]
Kisah para sahabat ini
mengajarkan bahwa hakikat kekayaan bukan terletak pada banyaknya harta yang
dimiliki, tetapi pada keluasan hati dalam berbagi. Orang yang benar-benar kaya
adalah mereka yang mampu melepaskan hartanya di jalan Allah dengan penuh
keikhlasan dan keyakinan. Sebab, apa yang diberikan kepada Allah, tidak akan
pernah berkurang, bahkan akan kembali dalam bentuk yang lebih baik, baik di
dunia maupun di akhirat.
Keadaan ini dapat
diibaratkan seperti seorang yang menanam benih di tanah yang subur. Ia mungkin
kehilangan benihnya saat ditanam, tetapi ia yakin akan mendapatkan hasil yang
berlipat ganda di kemudian hari.
Demikian pula sedekah;
harta yang dikeluarkan dengan ikhlas tidak akan hilang, melainkan akan tumbuh
menjadi keberkahan, pahala, dan kebahagiaan yang abadi di sisi Allah.
Faedah yang Dapat
Diambil dari Kisah Ini:
1/ Seorang muslim tidak
boleh ragu untuk bersedekah, terlebih pada bulan Ramadan yang penuh keberkahan
dan pahala dilipatgandakan.
2/ Kita harus meyakini
bahwa Allah -Tabaroka wa ta’ala- akan mengganti setiap harta yang dikeluarkan
di jalan-Nya dengan yang lebih baik.
3/ Hendaknya bersedekah
menjadi kebiasaan seorang mukmin dalam kesehariannya, terlebih lagi di bulan Ramadan.
Sebab, Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak sedekah dan berbagi
kepada sesama.
4/ Kedermawanan pada bulan
Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah, terutama jika disertai
dengan niat yang ikhlas dalam beramal saleh.
5/ Keutamaan iman dan
tawakal kepada Allah lebih tinggi daripada sekadar banyaknya harta yang
dimiliki. Abu Bakar menunjukkan bahwa keyakinan kepada Allah adalah sumber
kekuatan dalam beramal.
6/ Semangat berlomba dalam
kebaikan adalah sifat para sahabat. Persaingan antara Umar dan Abu Bakar -radhiyallahu
‘anhuma- bukanlah untuk kebanggaan, tetapi untuk meraih ridha Allah.
7/ Harta hanyalah titipan
dari Allah -Azza wa jalla-, bukan tujuan hidup. Ketika seorang hamba menyadari
hal ini, maka ia akan lebih mudah menginfakkan hartanya di jalan Allah, tanpa
rasa berat.
-----------------------------
Artikel ini adalah karya tulis dari salah seorang santri TN (Tadribun Nisaa’ Setingkat SMA) Pesantren Al-Ihsan Gowa yang telah diedit dan disempurnakan oleh Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- pada tanggal 29 Ramadhan 1447 H.

Komentar
Posting Komentar