Kisah Kedermawanan Sahabat Shuhaib Ar-Rumiy -radhiyallahu 'anhu-

 


Kisah Kedermawanan Sahabat

Shuhaib Ar-Rumiy -radiyallahu ‘anhu-

 

Penulis: Fadhilah bintu Abdil Qodir (Santri TN Kelas 1)

 

Di antara para sahabat Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- yang terkenal dengan keikhlasan dan kedermawanannya adalah Shuhaib Ar-Rumiy -radhiyallahu ‘anhu-.

 

Beliau termasuk sahabat yang mengalami berbagai ujian sebelum memeluk Islam. Meski berasal dari keluarga terpandang dan memiliki kekayaan yang cukup, semua itu tidak mampu menahan hatinya dari cahaya iman.

 

Ketika Islam telah bersemayam di dalam dadanya, harta dunia yang dahulu ia miliki menjadi terasa ringan untuk dilepaskan. Ia rela meninggalkan seluruh kekayaannya demi mempertahankan keimanannya ketika hendak berhijrah ke Madinah.

 

Sikapnya bagaikan seorang musafir yang meninggalkan beban berat di tengah perjalanan agar dapat sampai dengan selamat ke tujuan. Baginya, keselamatan iman jauh lebih berharga daripada seluruh harta dunia.

 

Kisah kedermawanan Shuhaib Ar-Rumiy -radhiyallahu ‘anhu- menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus lebih utama daripada kecintaan kepada harta.

 

Harta hanyalah ibarat bayangan yang akan hilang ketika matahari terbenam, sedangkan iman adalah cahaya yang menerangi perjalanan menuju kehidupan akhirat.

 

Oleh karena itu, pengorbanan beliau menjadi teladan tentang keikhlasan, keberanian, dan kemuliaan akhlak seorang sahabat.

 

Diriwayatkan dari Hamzah bin Shuhaib, ia berkata,

“Sesungguhnya Shuhaib biasa dipanggil dengan kunyah Abu Yahya (bapaknya Yahya). Ia juga mengatakan bahwa dirinya berasal dari bangsa Arab, dan ia dikenal sebagai orang yang banyak memberi makan kepada orang lain.”

 

Suatu hari Umar bin Al-Khaththab -radhiyallahu ‘anhu- bertanya kepadanya,

“Wahai Shuhaib, mengapa engkau dipanggil Abu Yahya, padahal engkau tidak memiliki anak[1] dan engkau mengatakan bahwa engkau berasal dari bangsa Arab? Selain itu, aku melihat engkau sering memberi makan orang dalam jumlah banyak. Bukankah itu termasuk pemborosan harta?”

 

Shuhaib pun menjawab dengan tenang,

“Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- yang memberiku kunyah Abu Yahya. Adapun mengenai nasabku, maka aku adalah seorang laki-laki dari kabilah Namir bin Qosith, dari penduduk Mosul. Akan tetapi ketika masih kecil aku pernah ditawan. Meski demikian, aku tetap mengenal keluargaku dan kaumku.

Adapun tentang kebiasaanku memberi makan orang lain, maka sesungguhnya Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَرَدَّ السَّلَامَ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang memberi makan dan menjawab salam.”

Itulah yang mendorongku untuk memberi makan kepada orang lain.”

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Al-Musnad (no. 23926).[2]

 

Demikianlah kisah kedermawanan Shuhaib Ar-Rumiy -radhiyallahu anhu-. Ia adalah sahabat yang rela mengorbankan seluruh hartanya demi menjaga iman dan cintanya kepada Allah serta Rasul-Nya.

 

Harta di tangannya ibarat air di telapak tangan; tidak pernah ia genggam erat, tetapi ia gunakan untuk membantu orang lain.

 

Sikap ikhlas dan pengorbanannya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, laksana seorang musafir yang berteduh di bawah pohon sebelum melanjutkan perjalanan.

 

Lantaran itu, janganlah kecintaan kepada dunia membuat kita lalai dari mempersiapkan bekal berupa amal sholih untuk kehidupan akhirat yang kekal.

 

Kisah kedermawanan Shuhaib Ar-Rumiy -radhiyallahu ‘anhu- mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari banyaknya harta yang ia miliki, tetapi sejauh mana ia mampu menggunakan hartanya untuk kebaikan dan mendahulukan keimanan di atas segala-galanya.

 

Shuhaib -radhiyallahu anhu-  telah membuktikan bahwa hati yang dipenuhi iman akan memandang dunia hanya sebagai sarana untuk mengumpulkan pahala, bukan tujuan.

 

Ia rela melepaskan harta sebagaimana seorang musafir yang meninggalkan beban berat agar dapat melanjutkan perjalanan dengan ringan menuju tujuan yang lebih mulia. Sesampainya di kota Madinah, beliau kembali membuktikan keimanannya yang mendorong dirinya mengeluarkan banyak harta berupa jamuan makan dalam porsi banyak kepada kaum fakir dan miskin demi meraup pahala dan keutamaan yang menjadi bekal takwa menuju negeri akhirat.

 

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dapat meneladani keikhlasan dan kedermawanan para sahabat Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- dalam kehidupan sehari-hari.

 

Faedah dari Kisah Shuhaib Ar-Rumiy

 

1/ Mendahulukan iman daripada harta.

Shuhaib -radhiyallahu anhu- rela meninggalkan seluruh kekayaannya demi mempertahankan keislamannya. Hal ini mengajarkan bahwa iman lebih berharga daripada seluruh harta dunia. Harta dapat dicari kembali, tetapi iman yang hilang belum tentu dapat kembali.

 

2/ Keikhlasan dalam berkorban.

Pengorbanannya dilakukan tanpa keraguan dan tanpa mengharap pujian manusia. Ia hanya mengharapkan keridhaan Allah -Ta’ala-. Orang yang ikhlas dalam beramal ibarat pohon yang berbuah lebat; ia tetap memberi manfaat, meskipun tidak ada yang memujinya.

 

3. Keberanian dan keteguhan hati.

Hijrah dan meninggalkan seluruh harta bukanlah keputusan yang mudah. Namun, Shuhaib -radhiyallahu anhu- menunjukkan keberanian dan keteguhan hati dalam mempertahankan keimanan. Hatinya kokoh seperti gunung yang tidak mudah digoyahkan oleh badai ujian.

 

4/ Keutamaan memberi makan kepada orang lain.

Dalam kisah ini tampak bahwa Shuhaib -radhiyallahu ‘anhu- sangat antusias memberi makan kepada orang lain. Hal itu ia lakukan karena mengikuti sabda Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang gemar memberi makan, dan menjawab salam.

Memberi makan kepada orang lain merupakan amalan mulia yang dapat menumbuhkan kasih sayang di antara sesama. Orang yang gemar memberi makan ibarat mata air yang mengalir di tengah padang tandus; keberadaannya memberi kehidupan dan manfaat bagi banyak orang.

 

5/ Semangat meneladani sunnah Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-.

Shuhaib Ar-Rumiy -radhiyallahu anhu- melakukan kedermawanan bukan sekadar karena kebiasaan atau keinginan pribadi, tetapi karena ingin meneladani sabda dan petunjuk Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-.

Hal ini mengajarkan kita bahwa seorang muslim hendaknya menjadikan sunnah Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- sebagai pedoman dalam beramal. Orang yang mengikuti sunnah ibarat seorang pelaut yang berlayar dengan kompas yang jelas; ia akan lebih mudah mencapai tujuan dengan penuh bahagia dan selamat.

 

Jadi, kisah kedermawanan Shuhaib Ar-Rumiy -radhiyallahu ‘anhu- ini  semakin menunjukkan betapa mulianya akhlak para sahabat Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, dan betapa pentingnya meneladani mereka dalam keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama.

 

--------------------------------

 

Ini adalah karya tulis salah seorang santri di Pesantren Al-Ihsan Gowa yang telah diedit dan disempurnakan oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- pada tanggal 20 Ramadhan 1447 H.



[1] Kisah dan percakapan ini sebelum Shuhaib memiliki anak. Karena, yang meriwayatkan hadits ini adalah Hamzah, anak dari sahabat Shuhaib Ar-Rumiy -radhiyallahu anhu-.

[2] Kisah ini dinyatakan “hasan-shohih” oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Shohih At-Targhib (no. 948)


Komentar

Artikel Paling Populer