Adab-adab dalam Berpuasa di Bulan Ramadan
Adab-adab dalam Berpuasa di Bulan Ramadan
Penulis: Najla Shofiyah Nurul Ilmi (Santri Kelas TN 1)
Bulan Ramadan adalah musim kebaikan yang Allah -Ta’ala- bukakan bagi hamba-hamba-Nya. Pada bulan ini, pintu-pintu rahmat dibuka, dosa-dosa diampuni, dan pahala dilipatgandakan.
Setiap Muslim berlomba-lomba memperbanyak ibadah, menahan diri dari yang diharamkan, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amalan. Namun, hakikat puasa tidak hanya terletak pada aktivitas menahan lapar dan dahaga, melainkan juga pada penjagaan adab dan akhlak selama menjalankannya.
Puasa tanpa adab ibarat sebuah pohon yang tinggi, tetapi tidak berbuah. Ia tampak tegak dan hidup, tetapi tidak memberi manfaat bagi orang yang melihatnya.
Demikian pula puasa seseorang yang hanya menahan makan dan minum, tetapi lisannya tetap berkata dusta, hatinya dipenuhi dengki atau hasad, dan anggota tubuhnya tidak dijaga dari maksiat. Tak ada yang dia panen, melainkan rasa lapar dan haus.
Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan adab-adab dalam berpuasa merupakan perkara yang sangat penting agar puasa yang kita jalankan benar-benar membuahkan ketakwaan dan diterima di sisi Allah.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Puasa adalah ibadah yang mencakup penjagaan lisan, hati, pandangan, dan seluruh anggota tubuh. Inilah yang disebut dengan adab dalam berpuasa.
Di antara adab-adab puasa yang penting kita jaga dan perhatikan saat berpuasa:
1/ Tujuan Puasa adalah Taqwa
Setiap ibadah yang Allah syariatkan memiliki tujuan yang agung. Demikian pula puasa Ramadan, ia bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi merupakan sarana untuk membentuk hati yang bertakwa. Dengan puasa, seorang hamba dilatih untuk merasa diawasi oleh Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
Ketika seseorang memahami tujuan ini, ia akan menjalankan puasanya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Ia tidak hanya menjaga puasanya dari hal-hal yang membatalkan, tetapi juga dari hal-hal yang mengurangi pahala berupa perkara sia-sia dan haram.
Allah -Ta’ala- berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Suroh Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan puasa adalah meraih ketakwaan. Sedangkan ketakwaan tidak akan tercapai tanpa menjaga adab.
2/ Saat Puasa Harus Meninggalkan Dusta dan Maksiat
Puasa bukan hanya menahan diri dari perkara yang bersifat fisik. Seorang mukmin yang berpuasa juga dituntut untuk meninggalkan berbagai bentuk maksiat, baik yang dilakukan dengan lisan, maupun anggota tubuh lainnya.
Jika seseorang masih terjatuh dalam dusta dan keburukan, maka hakikat puasanya belum sempurna.
Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa menjaga diri dari dosa merupakan bagian penting dari kesempurnaan puasa. Tanpa hal ini, puasa bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.
Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhariy)
Jadi, puasa bukan sekadar menahan secara fisik. Adab merupakan roh dari puasa. Tanpa adab, pahala puasa bisa hilang.
3/ Puasa Melatih untuk Menahan Emosi
Di antara hikmah besar dari puasa adalah melatih kesabaran. Ketika seseorang berpuasa, ia merasakan lapar dan haus, yang terkadang dapat memicu emosi. Namun, justru di situlah letak latihan bagi jiwa seorang mukmin.
Puasa mengajarkan seseorang untuk tetap tenang, meskipun sedang diuji dengan gangguan atau provokasi dari orang lain. Seorang mukmin yang benar-benar memahami makna puasa akan menjaga sikap dan tidak mudah terpancing emosi.
Rasulullah -Shallallahu alaihi sallam- bersabda,
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
“Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, seorang mukmin yang berpuasa hendaknya melatih kesabaran, mengendalikan amarah, dan membentuk pribadi yang tenang dan santun.
4/ Puasa Menghapus Dosa
Salah satu keutamaan besar dari puasa Ramadan adalah menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Ini merupakan karunia yang sangat agung dari Allah -Tabaroka wa ta’ala- bagi hamba-Nya yang menjalankan puasa dengan iman dan keikhlasan.
Namun, para ulama menjelaskan bahwa ampunan tersebut diperoleh bagi orang yang menjaga puasanya dengan baik. Ia tidak merusak puasanya dengan dosa dan maksiat.
Rasulullah -Shallallahu alaihi sallam- bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)
Namun para ulama menjelaskan bahwa puasa yang mendatangkan ampunan adalah puasa yang dijaga adabnya.
5/ Puasa adalah Perisai
Puasa memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Ia menjadi pelindung bagi seorang hamba dari berbagai keburukan yang dapat merusak iman dan akhlaknya.
Fungsi dari perisai adalah melindungi seorang prajurit dalam peperangan. Nah, puasa juga melindungi seorang mukmin dari godaan hawa nafsu dan perbuatan dosa.
Rasulullah -Shallallahu alaihi sallam- bersabda,
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa itu adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa adalah perisai dari dosa-dosa, hawa nafsu, api neraka. Namun, ingat bahwa perisai tersebut akan kuat apabila tidak dirusak dengan perbuatan maksiat.
6/ Bahaya Puasa Tanpa Adab
Tidak semua orang yang berpuasa mendapatkan pahala yang sempurna. Ada sebagian orang yang berpuasa, tetapi puasanya tidak memberikan manfaat baginya selain rasa lapar dan haus.
Hal ini terjadi karena ia tidak menjaga adab dan tidak meninggalkan dosa selama berpuasa. Oleh karena itu, seorang muslim harus berhati-hati agar puasanya tidak menjadi sia-sia.
Rasulullah -Shallallahu alaihi sallam- bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
“Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya, selain rasa lapar, dan betapa banyak orang yang shalat malam, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa, selain begadang.” [HR. Ibnu Majah di dalam Sunan-nya (no. 1690), dan dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 1083)]
Hadis ini menjadi peringatan keras agar kita menjaga adab dalam berpuasa.
7/ Menjaga Lisan
Lisan adalah anggota tubuh yang paling mudah menyeret seseorang kepada dosa. Oleh karena itu, menjaga lisan menjadi salah satu adab penting dalam berpuasa.
Puasa yang sempurna adalah puasa yang mampu menahan lidah dari perkataan buruk dan menyibukkannya dengan perkataan yang baik.
Adab utama dalam puasa adalah menjaga perkataan dari ghibah (menggunjing), dusta, fitnah, kata-kata kasar atau kotor.
Puasa bukan hanya menahan makanan dan minuman, tetapi juga menahan lisan dari kalimat-kalimat yang mengundang kemurkaan Ar-Rahman -Tabaroka wa ta’ala-.
Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa keimanan akan mendorong seseorang untuk menjaga ucapan sehingga ia tidak akan mengucapkan kalimat-kalimat buruk. Karena, ia sadar bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan di depan Allah pada hari kiamat.
8/ Tidak Berlebihan Saat Berbuka
Ketika waktu berbuka tiba, sering kali seseorang tergoda untuk makan secara berlebihan. Padahal tujuan puasa adalah melatih pengendalian diri, bukan melampiaskan hawa nafsu perut.
Kesederhanaan dalam makan merupakan bagian dari adab seorang Muslim. Dengan makan secukupnya, tubuh menjadi lebih sehat dan ibadah pun dapat dilakukan dengan lebih baik.
Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulangnya. Jika harus (lebih), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” [Hadits Riwayat At-Tirmidziy dan Ibnu Majah. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no. 2135)
9/ Memperbanyak Ibadah
Bulan Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh. Pada bulan ini, pahala dilipatgandakan dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah terbuka luas.
Seorang Muslim yang memahami keutamaan ini akan berusaha memanfaatkan waktunya dengan berbagai bentuk ibadah.
Puasa seharusnya mendorong kita untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat sunnah, bersedekah, dan memperbanyak dzikir dan doa.
Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
“Bersegeralah kalian dalam beramal sebelum datang fitnah (ujian) seperti potongan malam yang gelap.” (HR. Muslim)
Puasa Ramadan adalah madrasah keimanan yang melatih seorang muslim untuk memperbaiki diri, membersihkan hati, serta menghiasi hidup dengan akhlak yang mulia.
Melalui puasa, seorang hamba belajar menundukkan hawa nafsunya, menjaga lisannya, menahan amarahnya, dan mengarahkan seluruh anggota tubuhnya kepada ketaatan.
Jika adab-adab puasa dijaga dengan baik, maka puasa tersebut tidak hanya menjadi ibadah yang menggugurkan kewajiban, tetapi juga menjadi sebab bertambahnya iman dan kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya, Allah -Tabaroka wa ta’ala-.
Oleh karena itu, hendaknya setiap Muslim menjadikan bulan Ramadan sebagai kesempatan untuk memperbaiki adab dan memperindah amal.
Jangan sampai puasa yang dijalani hanya menyisakan rasa lapar dan dahaga tanpa menghadirkan perubahan pada hati dan perilaku.
Semoga Allah menjadikan puasa kita sebagai puasa yang diterima, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang meraih derajat ketakwaan. Aamiin.
--------------------------
Ini adalah karya tulis salah seorang santri Pesantren Al-Ihsan Gowa yang telah diedit dan disempurnakan oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- pada tanggal 18 Ramadhan 1447 H.

Komentar
Posting Komentar