Mengambil Bekal di Dunia untuk Akhirat
Mengambil Bekal
di Dunia untuk Akhirat
Penulis: Salimah
bintu Muhammad Yamin (Santri Kelas TN 2)
Kehidupan
dunia adalah tempat ujian yang penuh dengan kesenangan yang menipu. Banyak
manusia yang terpedaya oleh gemerlapnya dunia hingga hati mereka terpaut dengan
dan membuatnya lalai dari tujuan penciptaannya. Padahal dunia hanyalah
persinggahan sementara, sedangkan negeri akhirat adalah kampung halaman yang
menjadi tujuan. Untuk menuju tujuan itu, hamba membutuhkan perbekalan berupa
“taqwa”; taqwa yang tergambar dalam dua hal: mengerjakan ketaatan dan menjauhi
maksiat.
Lantaran
itu, waktu, tenaga dan kesehatan kita hendaknya dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah -Ta’ala dengan menunaikan
ketaaan berupa amal-amal sholih dan menjauhi perkara-perkara yang Allah
hararamkan berupa maksiat.
Abdullah
bin Umar -radhiyallahu 'anhuma- berkata,
“Rasulullah
-shallallahu 'alaihi wa sallam- memegang pundakku, lalu bersabda,
«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»
"Jadilah
kamu di dunia ini sepe rti orang asing (perantau), atau seperti orang yang
sedang lewat (musafir).”
Dahulu
Ibnu Umar berkata,
«إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا
أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ المَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ
حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
“Jika
engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menanti pagi, dan jika engkau
berada di pagi hari, maka janganlah engkau menanti sore. Ambillah dari
kesehatanmu untuk (persiapan) sakitmu, dan ambillah dari hidupmu untuk
(persiapan) matimu." [Hadits Riwayat Al-Bukhariy dalam “Shohih”-nya (no. 6416)].
Dari
hadits ini kita memetik sebuah pelajaran bahwa seorang hamba selama hidup di
dunia, maka hendaknya ia memanfaatkan dunia dengan segala potensinya untuk
mendekatkan diri kepada Allah agar bekal akhirat kita mencukupi untuk
menghadapi perjalanan dan huru-hara akhirat. Waktu, harta, kesehatan dan yang
lainnya kita gunakan untuk meraih pahala di akhirat; tidak digunakan untuk bermaksiat.
Itulah arti dan hakikat zuhud terhadap. Kita tidak mengaharamkan dunia secara
mutlak; apa menolong kita di akhirat, maka kita ambil, dan apa yang
mencelakakan kita di akhirat, maka kita jauhi.
Faedah
Hadits:
1/
Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Dunia
adalah tempat untuk melakukan amal shalih, mengumpulkan bekal pahala. Seorang
mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tujuan sehingga ia lalai di dalamnya.
2/
Bersikap zuhud terhadap dunia dan tidak berlebihan dalam mengejar dunia dan
segala kemewahannya yang membuatnya jauh dari Allah -Ta’ala-.
3/
Hendaknya seorang mukmin fokus terhadap tujuan utama, yaitu akhirat sehingga ia
selalu ingat bahwa hidupnya di dunia adalah sementara. Ia hanya singgah
beristirahat sejenak dan berikutnya melanjutkan perjalanan dengan membawa bekal
berupa keutamaan dan pahala dari amal-amal sholih yang ia kerjakan saat hidup
di dunia.
4/
Memanfaatkan waktu sebaik mungkin dalam menunaikan amal sholih dan mengumpulkan
kebaikan berupa ibadah, akhlak baik demi mengejar ridho Allah -Ta’ala-.
----------------
Telah
diedit oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-, 8 Ramadhan 1447 H,
di Pesantren Al-Ihsan Gowa.

Komentar
Posting Komentar