Imam Muslim, Sang Penjaga Sunnah dari Naisabur

 



Imam Muslim,

Sang Penjaga Sunnah dari Naisabur

 

Penulis:

Latifa Zahra Belinda

(Santri TN 3 Ponpes Al-Ihsan Gowa)

 

Di antara para ulama besar yang Allah karuniakan kepada umat Islam dalam bidang hadis adalah Imam Muslim bin Al-Hajjaj -rahimahullah-. Beliau merupakan salah seorang tokoh terkemuka dalam ilmu hadis yang namanya senantiasa disebut berdampingan dengan Imam Al-Bukhariy -rahimahullah-.

 

Melalui karya monumentalnya, Shohih Muslim, beliau telah memberikan sumbangsih besar bagi penjagaan Sunnah Nabi dan menjadi rujukan utama umat Islam hingga hari ini.

 

Nama lengkap beliau adalah Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kusyaz Al-Qusyairi An-Naisaburiy.

 

Ayah beliau, Al-Hajjaj bin Muslim, merupakan seorang penuntut ilmu hadis. Meskipun tidak seterkenal ayah Imam Al-Bukhariy, seorang ulama Bernama Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Farra' menyebutkan bahwa ayah Imam Muslim -rahimahullah- adalah seorang guru dan pemerhati hadis di Kota Naisabur.

 

Adapun ibu Imam Muslim, maka beliau adalah seorang wanita salehah yang senantiasa mendampingi dan mendukung keluarganya. Meskipun informasi tentang beliau tidak banyak disebutkan dalam kitab-kitab biografi, peran keluarga yang penuh keimanan dan kecintaan terhadap ilmu, tentu memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian Imam Muslim -rahimahullah- sejak masa kecil hingga beliau tumbuh menjadi seorang ulama hadis yang agung.

 

Nisbah “An-Naisaburiy” di belakang nama beliau menunjukkan bahwa beliau berasal dari Kota Naisabur, sebuah kota yang terletak di wilayah Khurasan, yang saat ini termasuk Provinsi Razavi Khorasan di Iran bagian timur.

 

Kota ini bukan hanya terkenal karena kemajuan peradabannya, tetapi juga karena melahirkan banyak ulama besar Islam. Di antara mereka adalah Ishaq bin Rahawaih An-Naisaburiy (salah seorang guru Imam Al-Bukhariy); Ibnu Majah Al-Qazwini, penyusun kitab Sunan Ibnu Majah; dan Ibnu Khuzaimah An-Naisaburiy, imam besar dalam bidang hadis, pemilik kitab “Shohih Ibni Khuzaimah”.

 

Tentang tahun kelahiran Imam Muslim, para sejarawan Islam menyebutkan beberapa pendapat. Namun, pendapat yang paling masyhur adalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Adz-Dzahabiy -rahimahullah- bahwa Imam Muslim lahir pada tahun 204 Hijriah.

 

Pada abad ketiga Hijriah, yang dikenal sebagai masa keemasan ilmu hadis, wilayah Khurasan -khususnya, Kota Naisabur - menjadi salah satu pusat ilmu hadis terbesar di dunia Islam.

 

Banyak ulama besar menetap dan mengajar di kota tersebut. Para penuntut ilmu dari berbagai negeri berdatangan untuk belajar kepada mereka. Lingkungan ilmiah yang demikian subur menjadi salah satu faktor penting yang mendukung perkembangan keilmuan Imam Muslim -rahimahullah-.

 

Beliau lahir dan tumbuh dalam keluarga yang mencintai ilmu agama. Sejak kecil, kedua orang tuanya membimbing beliau untuk mencintai Al-Qur'an dan Sunnah. Menghafal Al-Qur'an, mempelajari hadis, serta menghadiri majelis-majelis ilmu menjadi bagian dari rutinitas kehidupannya sejak usia dini.

 

Perjalanan Menuntut Ilmu

 

Kesungguhan Imam Muslim -rahimahullah- dalam menuntut ilmu telah tampak sejak usia muda. Ketika berumur sekitar dua belas tahun, beliau mulai menghadiri majelis para ulama besar di Naisabur. Di antara guru-guru awal beliau adalah Yahya bin Yahya At-Tamimiy An-Naisaburiy, Ishaq bin Rahawaih, dan para ulama lainnya.

 

Namun, keilmuan Imam Muslim -rahimahullah- semakin berkembang ketika beliau mulai melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai negeri Islam. Sebagaimana para ulama hadis pada zamannya, beliau rela menempuh perjalanan jauh dan meninggalkan kampung halamannya demi memperoleh hadis dan bertemu langsung dengan para perawinya.

 

Perjalanan pertama beliau terjadi pada tahun 220 Hijriah, ketika berusia sekitar enam belas tahun. Saat itu beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

 

Kesempatan tersebut tidak beliau sia-siakan untuk menimba ilmu dari para ulama Makkah, di antaranya Abdullah bin Maslamah Al-Qo'nabiy, salah seorang murid senior Imam Malik. Setelah itu, beliau kembali ke Naisabur melalui Kufah, dan memanfaatkan perjalanannya untuk belajar kepada para ulama yang ditemuinya.

 

Imam Muslim -rahimahullah- seakan tidak mengenal lelah dalam menuntut ilmu. Baik ketika menetap, maupun dalam perjalanan, beliau selalu berusaha memanfaatkan waktunya untuk memperoleh ilmu dari para ulama. Ketika singgah di Kufah, misalnya, beliau belajar kepada seorang ahli hadis bernama Ahmad bin Yunus At-Tamimiy dan meriwayatkan hadis darinya.

 

Perjalanan kedua beliau dimulai pada tahun 230 Hijriah. Perjalanan ini berlangsung lebih lama, dan mencakup wilayah yang lebih luas dibandingkan perjalanan pertama.

 

Dalam rihlah ilmiahnya tersebut, Imam Muslim mengunjungi berbagai pusat ilmu, seperti Baghdad, Basrah, Kufah, Wasith, Makkah, Madinah, Syam, Mesir, Ray, dan berbagai kota lainnya.

 

Guru-Guru Imam Muslim

 

Jika dibandingkan dengan Imam Al-Bukhariy, jumlah guru Imam Muslim memang tidak sebanyak guru Imam Al-Bukhariy. Namun, karena rentang usia keduanya tidak terlalu jauh -sekitar sepuluh tahun-, Imam Muslim berkesempatan berguru kepada banyak guru yang juga menjadi guru Imam Al-Bukhariy.

 

Para ulama menyebutkan bahwa guru-guru Imam Muslim -rahimahullah- dapat dibagi menjadi dua kelompok.

Pertama, guru-guru yang hadis-hadisnya beliau riwayatkan dalam Shohih Muslim. Jumlah mereka diperkirakan mencapai sekitar 220 orang. Dari jalur merekalah Imam Muslim menyusun sanad-sanad hadis dalam kitabnya hingga sampai kepada Rasulullah .

Di antara mereka:

 

- Abu Bakr bin Abi Syaibah

- Qutaibah bin Sa'id Ats-Tsaqafiy

- Muhammad bin Basyyar (Bundar)

- Muhammad bin Al-Mutsanna Al-'Anaziy

- Muhammad bin Rafi' An-Naisaburiy

 

Kedua, guru-guru yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan keilmuan beliau, meskipun tidak banyak disebutkan dalam Shohih Muslim.

Di antara mereka:

- Imam Ahmad bin Hanbal

- Ishaq bin Rahawaih

- Yahya bin Yahya At-Tamimiy An-Naisaburiy

- Muhammad bin Isma'il Al-Bukhariy

- Abdullah bin Maslamah Al-Qo'nabiy

 

Di antara seluruh guru beliau, Imam Al-Bukhariy -rahimahullah- memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Ketika Imam Al-Bukhari datang ke Naisabur pada tahun 250 Hijriah dan mengajar di sana, Imam Muslim -rahimahullah- senantiasa menghadiri majelisnya. Beliau sangat menghormati dan mengagungkan gurunya tersebut.

 

Para penulis biografi menukil ucapan Imam Muslim kepada Imam Al-Bukhariy,

"Wahai guru para guru, wahai pemimpin para ahli hadis, wahai dokter hadis yang mengetahui penyakit-penyakit hadis."

 

Karena kedekatan hubungan keduanya, Imam Ad-Daraquthniy -rahimahullah- pernah berkata,

"Seandainya bukan karena Al-Bukhariy, niscaya Muslim tidak akan dikenal."

 

Demikian pula hubungan beliau dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Setiap kali berdiskusi, dan bertanya kepada Imam Ahmad, beliau mencatat hasil pembicaraan tersebut dengan teliti hingga menjadi bahan bagi karya-karya ilmiahnya.

 

Mengapa Imam Muslim Tidak Meriwayatkan dari Imam Al-Bukhariy dalam Shohih Muslim?

 

Meskipun Imam Muslim banyak belajar dari Imam Al-Bukhariy, beliau tidak mencantumkan hadis-hadis yang diriwayatkan langsung dari Imam Al-Bukhariy dalam Shohih Muslim.

 

Para ulama menjelaskan beberapa kemungkinan alasan di balik sikap tersebut:

1. Imam Muslim ingin menggunakan sanad yang lebih tinggi dalam kitabnya.

2. Beliau ingin menyertakan hadis-hadis yang tidak tercantum dalam Shohih Al-Bukhari.

3. Beliau berusaha menjaga hubungan baik dengan kedua gurunya, yaitu Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhliy dan Imam Al-Bukhariy, yang pernah mengalami perselisihan.

 

Murid-murid dan Karya-karya Imam Muslim

 

Keilmuan Imam Muslim kemudian diwariskan kepada banyak murid yang kelak menjadi ulama besar. Di antara murid-murid beliau:

- Imam At-Tirmidziy, Penulis Sunan At-Tirmidziy,

- Ibnu Khuzaimah, Penulis Shohih Ibni Khuzaimah,

- Ibnu Abi Hatim Ar-Raziy, Penulis kitab Al-Jarh wa At-Ta’dil,

- Abu Al-Fadhl Ahmad bin Salamah, dan lain sebagainnya.

 

Selain itu, beliau juga meninggalkan sejumlah karya ilmiah yang sangat berharga. Sebagian di antaranya masih dapat dipelajari hingga sekarang, yaitu:

- Shohih Muslim

- At-Tamyiz

- Kitab Al-Mukhadhramun

- Su'alat Muslim li Ahmad bin Hanbal

- Al-Intifa' bi Juludi As-Siba'

 

Kehidupan dan Akhlak Imam Muslim

 

Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Farra' menyebutkan bahwa Imam Muslim -rahimahullah- hidup dari hasil usahanya sendiri. Beliau bekerja sebagai pedagang kain dan pakaian.

 

Di samping keluasan ilmunya, beliau juga dikenal sebagai seorang yang dermawan, suka menolong sesama, dan banyak berbuat kebaikan kepada masyarakat di sekitarnya.

 

Imam Adz-Dzahabiy -rahimahullah- berkata bahwa beliau adalah seorang pedagang yang sukses dan dikenal sebagai muhsin Naisabur, yaitu orang yang banyak berbuat kebaikan dan kedermawanan di Kota Naisabur.

 

Wafatnya Imam Muslim

 

Setelah menghabiskan hidupnya untuk menuntut ilmu, mengajarkan, dan menulis ilmu hadis, Imam Muslim wafat pada tanggal 25 Rajab 261 Hijriah dalam usia sekitar lima puluh lima tahun.

 

Imam Adz-Dzahabiy -rahimahullah- meriwayatkan melalui Ahmad bin Salamah bahwa wafatnya Imam Muslim berkaitan dengan sebuah peristiwa yang menunjukkan betapa besar kecintaan beliau terhadap ilmu hadis.

 

Suatu hari, dalam sebuah majelis ilmu, seseorang bertanya kepada Imam Muslim -rahimahullah- tentang sebuah hadis yang belum berhasil beliau temukan.

 

Karena ingin mendapatkan jawabannya, Imam Muslim pulang ke rumah dan meminta keluarganya agar tidak mengganggunya. Beliau kemudian masuk ke perpustakaannya, dan mulai meneliti berbagai kitab serta catatan hadis yang dimilikinya.

 

Pada saat yang sama, seseorang menghadiahkan satu keranjang kurma kepadanya. Sambil terus meneliti dan mencari hadis tersebut, beliau memakan kurma sedikit demi sedikit. Karena begitu larut dalam pencarian ilmu, beliau tidak menyadari bahwa seluruh kurma dalam keranjang itu telah habis dimakan.

 

Menjelang subuh, hadis yang dicarinya akhirnya berhasil ditemukan. Namun, para ulama menyebutkan bahwa kurma yang beliau konsumsi pada malam itu menjadi salah satu sebab yang memperburuk kondisi kesehatannya hingga akhirnya beliau wafat.

 

Demikianlah perjalanan hidup Imam Muslim bin Al-Hajjaj -rahimahullah-. Kehidupan beliau mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan, kesungguhan dalam menuntut ilmu, kecintaan terhadap Sunnah Nabi , serta pengorbanan besar yang dilakukan para ulama demi menjaga agama ini untuk generasi setelah mereka.

 

Faedah dan Pelajaran dari Biografi Imam Muslim bin Al-Hajjaj

 

Para pembaca yang budiman, sebagai penutup, berikut beberapa faedah dan pelajaran yang dapat kita petik dari kisah hidup Imam Muslim -rahimahullah-:

1/ Lingkungan yang baik merupakan salah satu sebab keberhasilan seorang penuntut ilmu.

Imam Muslim -rahimahullah- tumbuh di tengah keluarga yang mencintai ilmu agama dan hidup di Kota Naisabur yang merupakan pusat ilmu hadis pada zamannya. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan yang baik memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian dan semangat seseorang dalam menuntut ilmu.

 

2/ Kecintaan kepada ilmu harus ditanamkan sejak usia dini.

 

Sejak kecil Imam Muslim telah dibiasakan menghafal Al-Qur'an, menghadiri majelis ilmu, dan mempelajari hadis. Pendidikan yang benar sejak masa kanak-kanak akan menjadi fondasi kuat bagi kesuksesan seseorang di masa depan.

 

3/ Kesungguhan dalam menuntut ilmu tidak mengenal usia.

Pada usia yang masih sangat muda, Imam Muslim telah menghadiri majelis para ulama besar. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam ilmu tidak diperoleh secara instan, tetapi melalui kesungguhan yang dimulai sejak dini.

 

4/ Melakukan rihlah ilmiah (Perjalanan menuntut ilmu) merupakan jalan para ulama dalam meraih ilmu yang melimpah.

Imam Muslim tidak merasa cukup dengan ilmu yang ada di negerinya. Beliau menempuh perjalanan jauh ke berbagai kota demi mendapatkan hadis dan bertemu para ulama. Inilah jalan yang ditempuh para imam besar Islam dalam meraih kedalaman ilmu.

 

5/ Seorang penuntut ilmu hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar.

Ketika berhaji, Imam Muslim tidak hanya beribadah, tetapi juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar kepada para ulama Makkah. Ini menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu selalu mencari peluang untuk menambah ilmunya.

 

6/ Kemuliaan ilmu diperoleh dengan kesabaran dan pengorbanan.

Perjalanan panjang, jauhnya jarak, serta berbagai kesulitan yang dihadapi Imam Muslim -rahimahullah- selama rihlah ilmiah menunjukkan bahwa ilmu memiliki harga yang harus dibayar dengan kesabaran dan pengorbanan.

 

7/ Menghormati guru merupakan sebab keberkahan ilmu.

Imam Muslim -rahimahullah- sangat memuliakan Imam Al-Bukhariy. Beliau menyebut gurunya dengan ungkapan penghormatan yang sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa adab kepada guru merupakan salah satu kunci keberkahan ilmu.

 

8/ Tidak ada ulama besar yang berdiri sendiri.

Meskipun Imam Muslim -rahimahullah- termasuk imam besar dalam ilmu hadis, beliau tetap berguru kepada banyak ulama, dan mengambil manfaat dari mereka. Ini membantah anggapan bahwa seseorang dapat mencapai puncak keilmuan tanpa belajar kepada para guru.

 

9/ Seorang murid yang baik akan mengakui keutamaan gurunya.

Ketinggian kedudukan Imam Muslim -rahimahullah- tidak membuatnya meremehkan gurunya. Sebaliknya, beliau selalu mengakui keutamaan Imam Al-Bukhariy, dan menghormatinya dengan penuh tawadhu’ (rendah hati).

 

10/ Keilmuan yang benar melahirkan akhlak yang mulia.

Selain terkenal sebagai ahli hadis, Imam Muslim juga dikenal sebagai seorang yang dermawan, suka menolong, dan banyak berbuat baik kepada masyarakat. Ini menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat akan membuahkan akhlak yang baik.

 

11/ Bekerja dan berdagang tidak mengurangi kemuliaan seorang ulama.

Imam Muslim -rahimahullah- mencari nafkah melalui perdagangan kain dan pakaian. Hal ini menunjukkan bahwa para ulama terdahulu tidak menggantungkan hidup mereka kepada manusia, tetapi berusaha mencari rezeki yang halal dengan tangan mereka sendiri.

 

12/ Menulis merupakan sarana menjaga ilmu.

Melalui kitab-kitab yang beliau tulis, khususnya Shohih Muslim, ilmu beliau tetap hidup dan terus memberikan manfaat kepada umat Islam meskipun beliau telah wafat berabad-abad yang lalu.

 

13/ Kecintaan kepada Sunnah Nabi merupakan jalan menuju kemuliaan.

Seluruh kehidupan Imam Muslim dihabiskan untuk mengumpulkan, meneliti, dan menyebarkan hadis Rasulullah . Allah pun mengangkat namanya sehingga dikenang oleh umat Islam hingga hari ini.

 

14/ Keikhlasan menjadikan amal terus dikenang.

Ribuan ulama hadis hidup pada masa Imam Muslim, namun Allah mengabadikan nama beliau melalui karya-karyanya yang ikhlas dan penuh manfaat. Ini menunjukkan bahwa keikhlasan merupakan sebab diterimanya amal di sisi Allah.

 

15/ Semangat mencari ilmu hendaknya terus hidup hingga akhir hayat.

Kisah wafatnya Imam Muslim -rahimahullah- menunjukkan bahwa beliau tetap sibuk meneliti dan mencari hadis hingga penghujung hidupnya. Seolah-olah beliau mengajarkan kepada umat bahwa seorang pencari ilmu tidak pernah berhenti belajar sampai ajal menjemputnya.

 

16/ Kemuliaan seseorang diukur dari manfaat yang diberikannya.

Imam Muslim -rahimahullah- telah wafat lebih dari seribu tahun yang lalu, namun manfaat ilmunya masih dirasakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Inilah hakikat kemuliaan yang sesungguhnya, yaitu menjadi sebab tersebarnya ilmu dan hidayah bagi manusia.

 

____________________

 

NB:

1/ Tulisan ini adalah karya tulis dari Ananda Latifa Zahra Belinda. Beliau merupakan santri Tadribun Nisa’, kelas 3, Pesantren Al-Ihsan Gowa.

 

2/ Tulisan telah diedit dan diposting oleh Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah- pada tanggal 25 Robi’ul Awwal 1448 H yang bertepatan dengan 07 September 2026 M.

 

3/ Tulisan ini adalah ajang berlatih dalam menuangkan ilmu melalui tulisan agar bermanfaat bagi kaum muslimin.

Komentar

Artikel Paling Populer